Peduli, bukanlah hal yang bisa tiba-tiba muncul dalam pribadi seorang anak. Peduli adalah suatu tindakan yang didasari pada keprihatinan terhadap masalah orang lain (sumber: wikipedia). Mayoritas orang tua pasti senang melihat anaknya memiliki sifat peduli pada lingkungan atau masyarakat, pada orang tua, dan pada dirinya sendiri. Membentuk sifat peduli pada anak harus dilakukan sejak dini. Kapan saat yang tepat dalam menanamkan sifat peduli pada anak? jawabannya adalah semenjak dia lahir atau bahkan semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.
Seorang ibu yang sedang hamil memiliki ikatan psikologis yang tinggi dengan anak yang dikandungnya. Carista Luminare-Rosen, PhD, membuktikan pada penelitiannya bahwa bayi dalam kandungan sudah memiliki kemampuan emosional dan intuisi untuk merasakan cinta dari kedua orang tuanya (sumber: ayahbunda.co.id). Jika seorang bumil (ibu hamil) tidak merasa mendapatkan dukungan dan rasa aman dari suaminya selama kehamilan, maka perasaan bumil yang merasa diabaikan tersebut akan dapat pula dirasakan oleh janin.
Pada saat anak baru lahir atau masih bayi juga merupakan masa di mana anak belajar kepedulian dari ayah dan bundanya. Saat ayah mau membantu bunda menggantikan popok atau memandikan karena bundanya sedang repot memasak adalah salah satu momen di mana bayi memperhatikan dan merasakan kepedulian. Bagaimana kita berucap saat merawat bayi apakah dengan mengomel atau dengan ketulusan juga menentukan keberhasilan kita dalam menanamkan kepedulian pada anak.
Ketika anak masuk usia balita, setiap kali dia selesai main ayah dan bunda selalu kompak dalam menerapkan aturan untuk merapikan mainan sebelum tidur atau melakukan kegiatan lain. Ini juga merupakan bentuk pendidikan kepedulian.
Sejak balita, anak memperhatikan peran-peran ayah dan ibunya di rumah. Peran-peran tersebut membantu dia untuk mengenali bagaimana bersikap peduli. Saat ibu yang sedang memasakkan makanan untuk keluarga, ayah menyapu dan mengepel, bunda memandikan anak, ayah bantu menyuapi bayi, ayah bersedia bangun tengah malam saat sang bayi bangun dan menangis, secapek apapun pulang kerja tetap menyempatkan waktu bermain dengan anak, mengajak anak memberi makan hewan peliharaan setiap hari, menyirami tanaman agar tumbuh baik adalah beberapa aktivitas yang akan direkam anak dan menjadi teladan bagi mereka bagaimana bersikap peduli.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Abraham Maslow bahwa terdapat lima tingkat kebutuhan dasar, yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.
Teori tersebut menunjukkan bahwa anak yang memiliki sifat peduli pada dasarnya adalah anak-anak yang telah mendapatkan kebutuhan yang paling dasar dulu yaitu makan dan minum, rasa aman yang didapat dari lingkungan terdekatnya (yaitu keluarga), merasa dicintai bukan diabaikan oleh orang tuanya, mendapatkan penghargaan di setiap keberhasilan tumbuh kembang kemampuan mereka, dan pada akhirnya mereka akan belajar beraktualisasi dan berani mengambil peran atau tanggung jawab, semisal membantu merapikan mainan, menyapu halaman, dan lain sebagainya.
Sebuah studi di Harvard University, Amerika Serikat, menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara besarnya tanggung jawab seorang anak, dengan kecenderungan bersedia mementingkan orang lain.
Ketika anak sudah masuk tahap mengambil peran dan tanggungjawab, di situlah anak sedang menumbuhkan jiwa peduli terhadap sekitar, tidak hanya pada keluarga tapi juga kepada masyarakat.
Sebuah pengalaman unik yang bisa kami rasakan hasilnya ketika kami membiasakan menerapkan hal di atas. Waktu itu mas arvin (anak kami) masih berumur 22 bulan. Cerita ini pernah saya upload di facebook. Begini ceritanya:
Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Mas arvin (yang saat itu sedang sakit cacar air) dan ayah masih di rumah dan sedang menunggu bunda yang lagi belanja di toko sebelah. Kami teringat bahwa bunda tadi berangkat tidak membawa payung.
Ayah: "lho mas hujan deras! bunda tadi tidak bawa payung, mas."
Arvin: "nDaa...nDaa" sambil nangis keras. maksudnya dia sedih karena khawatir Bunda tidak bisa pulang/kehujanan.
Ayah: "ayo Le, sama ayah bawakan bunda payung. Mas arvin mau?"
Arvin: "he-eh" (maksudnya iya).
Dalam perjalanan ke toko yang jaraknya sekitar 10 rumah, sambil saya menggendong & bawa dua payung, saya tanya mas arvin.
Ayah: "arvin nangis soalnya bunda tidak bawa payung tha?".
Mas arvin angguk-angguk sambil masih sesenggukan.
Ayah: "sudah, cup. Dah gak usah nangis. Nih khan sedang antarkan payungnya ke bunda."
Mas arvin pun berhenti menangis sambil memeluk ayah erat karena dia sendiri takut kehujanan. Maklum payung yang kami punya payung lipat yang kecil.
Saat bertemu dan mengantarkan payung ke bunda. Bunda tampak senang sekali ketika tahu kenapa kami nekat bawakan payung padahal hujan deras.
(Sesampai kami d rumah)
Ayah: "mas arvin senang tadi senang antarkan payung buat bunda?"
Arvin: "iya".
Singkat cerita, beberapa menit kemudian, setiba bunda di rumah. Bunda langsung menghampiri mas arvin dan terharu.
Saya juga ikut terharu dan bangga. Alhamdulillaah, semoga jadi anak yang soleh dan senantiasa peduli ya mas :) :*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar