Tampilkan postingan dengan label sharing parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2016

Main Marble PVC Pipe

Mas Arvin suka menyambung pipa-pipa yang ada di gudang menjadi bentuk entah apa itu ^_^. Terkadang saya masukkan kelereng ke dalam pipa dan mas Arvin berusaha mengeluarkan. Kebetulan saya ada sisa pipa 1/2" cocok dengan ukuran kelereng sehingga kelereng bisa menggelinding bebas di dalam pipa. Dari pengalaman itu, akhirnya Ayah punya ide untuk membuat labirin kelereng dari bahan pipa 1/2" yang bisa diubah-ubah bentuknya tergantung tingkat kesulitan labirin yang diinginkan. Lego ini saya beri nama Lego Labirin Pipa 1/2" atau Marble PVC Pipe Labyrinth.

Tapi lego ini tidak hanya untuk membuat labirin saja. Lego dari pipa ini bisa juga dibentuk menjadi bentuk-bentuk lain sesuai imajinasi anak-anak. Main marble PVC pipe seru juga.

Manfaat bermain lego labirin pipa ini mampu mengasah kemampuan imajinasi anak, kemampuan sensorik anak terhadap getaran dan bunyi, kemampuan motorik halus, dan logika atau pemahaman sistem. Jika permainan ini digunakan untuk memberikan tantangan kepada teman bermain maka kemampuan bersosialisasi juga berkembang.

Alat dan bahan yang dibutuhkan:

  1. Pipa paralon 1/2" sepanjang 3 meter.
  2. Pipa socket 1/2" sebanyak 5 buah.
  3. Pipa cap/tutup 1/2" sebanyak 4 buah.
  4. Pipa T 1/2" sebanyak 12 buah.
  5. Pipa elbow/knee 1/2" sebanyak 10 buah.
  6. Gergaji besi.
  7. Penggaris dan pensil.
  8. Amplas.


Langkah-langkah membuat lego labirin ini cukup mudah. Pertama, potonglah pipa paralon 1/2" menjadi 29 potong masing-masing berukuran 10 cm, dan 4 potong berukuran 5 cm. Tandai menggunakan pensil dan penggaris agar ukuran sama. Kedua, bersihkan ujung-ujung pipa bekas gergaji dengan amplas hingga halus agar aman digunakan saat bermain. Ketiga, rangkailah menjadi labirin pipa sesuai selera dengan memberi jalan masuk kelereng, jebakan berupa jalan buntu, tikungan, dan persimpangan, serta jalan keluar kelereng.

Mudah bukan? :)
Ajak anak-anak bermain dengan bentuk labirin yang mudah dulu untuk memahami aturan permainan. Kemudian tingkatkan kesulitan bentuk labirin. Dibawah ini contoh-contoh bentuk labirin yang bisa dibuat dengan bahan-bahan di atas

Jumat, 18 November 2016

Komunikasi Sehat dan Kepercayaan Anak

Seorang teman mengatakan bahwa anaknya yang berumur 11 tahun sekarang ini lebih cenderung percaya pada temannya daripada perkataan ibunya, mudah membantah instruksi orangtuanya, padahal dulunya tidak pernah seperti itu. Begitu pula anak tetangga yang berumur antara 10-11 tahun, mulai tidak patuh pada aturan-aturan yang diterapkan ibunya dan lebih percaya pada orang lain atau temannya. Mengapa hal itu terjadi dan bagaimana mengantisipasinya? Hal ini membuat kami ingin belajar lebih jauh lagi tentang bagaimana ortu membangun komunikasi yang sehat antara ortu dengan anak, dan bagaimana ortu mendapatkan kepercayaan anak. Berikut ini fakta-fakta atau pengetahuan yang kami peroleh dan kesimpulan dari hasil diskusi kami.

Menurut psikolog, anak usia segitu memang usia di mana mulai ada perubahan hormonal yang mempengaruhi perilaku. Anak yang mengalami ini tidak sadar apa yang sedang terjadi pada dirinya, cenderung emosional. Perubahan emosinya yang labil akan lebih tampak lagi ketika masa pubertas. Hal ini dipengaruhi oleh kemasakan hormon saat memasuki usia remaja. Gesell, dkk, juga menuturkan bahwa remaja 14 tahun seringkali mudah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung meledak, dan tidak berusaha mengendalikan perasaannya (Hurlock, 1993) karena emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka dari pada perilaku yang realistis. Oleh karena itu, masa remaja merupakan masa kritis bagi peneguhan atau pembentukan kepribadian apa yang akan dia miliki nanti.

Beberapa pertanyaan pun muncul di benak saya, antara lain: apakah kesadaran anak terhadap perubahan tubuhnya tidak mampu mengenali dan mengatasi faktor hormonal tubuhnya sendiri? apakah hal ini tidak bisa diantisipasi atau setidaknya efek negatifnya dikurangi? apa dan bagaimana peran orang tua agar mampu membimbing anak agar memiliki pribadi yang sehat di masa seperti ini?

Pembahasan pertama yang saya ingin bahas dari kasus anak teman saya di atas adalah apakah betul anak seusia 10-11 tahun (mulai remaja) hanya mau mendengar perkataan temannya. Menjawab hal ini, saya ingin balik bertanya apakah setiap temannya dipercaya oleh si anak? tidak juga bukan. Ada juga teman-temannya yang tidak dia suka atau tidak dia percayai.

Sehingga masalah sebenarnya apa? apakah hanya hormonal? menurut saya salah satunya adalah mereka (remaja) memiliki "keinginan" untuk tidak ingin disikapi sebagai anak-anak lagi oleh orang tuanya. Mereka ingin dianggap sebagai anak yang bisa berpikir dan mandiri. Mereka cenderung tersinggung jika diatur. Teman-teman dekat dia yang seumuran tentu memiliki kedekatan emosional karena mereka memiliki kesamaan "keinginan" tersebut. Keinginan ini jika tidak disadari orang tua dengan tetap menganggap mereka sebagai anak balita atau kanak-kanak, tidak memberikan kepercayaan, tidak mengasah kemandirian mereka, maka wajar akhirnya anak kurang dekat secara emosional dengan orang tuanya ketimbang dengan teman-teman. Hal ini kemudian anak akan lebih mengikuti atau percaya pada omongan teman ketimbang orang tua.

Orang tua yang mendikte anak-anaknya bagaimana seharusnya memecahkan masalahnya dan mengarahkan bahwa anak-anak tidak memiliki kendali atas kehidupannya sendiri, maka mereka akan kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya. Kegagalan komunikasi orang tua kepada anak karena gaya komunikasi orang tua yang cenderung memojokkan anak ketika anak salah, menyindir, atau menguliahi.

Agar tujuan komunikasi orang tua pada anak berhasil, sebaiknya orang tua menggunakan gaya komunikasi yang menanyakan alasan atau sebab perilakunya, berbicara dengan nada positif, dan tidak kasar. Hal tersebut akan membuat anak lebih menghormati orang tua dan mendapat kepercayaan dari anak.

Namun ada hal juga yang tidak bisa dipungkiri, bahwa faktor hormonal juga mempengaruhi cara berpikir anak. Anak yang sudah berusia 7 tahun ke atas sudah mulai berkembang kemampuan berpikirnya, mempertanyakan banyak hal yang awalnya sekedar "apa" meningkat menjadi "mengapa" dan "bagaimana". Jika anak sudah masuk fase seperti ini maka orang tua sudah selayaknya mengajak, melatih, dan mengarahkan anak untuk mampu berpikir mandiri, menarik kesimpulan sendiri dengan benar, berperilaku atas dasar kesadarannya sendiri, bukan berupa perintah langsung.

Bagaimana cara membentuk anak agar mampu berpikir mandiri dengan benar? Dalam hal ini yang harus memulai adalah orang tua. Orangtua harus mulai mengasah dirinya sendiri dalam hal keterampilan bertanya. Keterampilan bertanya ini sebenarnya adalah cara pendidikan Allah terhadap manusia. Keterampilan bertanya ini maksudnya adalah

Kamis, 20 Oktober 2016

Balita Main Gunting dan Pistol Air

Kemampuan motorik halus merupakan kemampuan yang penting yang dibutuhkan anak-anak sebagai persiapan masuk sekolah, terutama dalam hal menulis. Dalam hal ini, banyak cara yang dapat digunakan untuk melatihnya, salah satunya adalah kegiatan menggunting kertas dan bermain pistol air. Kegiatan ini bisa mulai diperkenalkan pada anak-anak saat mereka berusia 2 atau 3 tahun.

Menurut ayah, kegiatan yang paling menantang bagi mas arvin adalah kegiatan menggunting kertas. Terkadang ketika sudah capek mencoba, akhirnya butuh seminggu lebih untuk mau mencoba lagi. Kegiatan menggunting kertas ini memang bukanlah kegiatan yang mudah bagi anak-anak atau balita. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengajari kegiatan tersebut sampai mereka terampil. Orangtua harus sabar dan tidak memaksakan anak saat berlatih kegiatan ini, harus dengan suasana bermain dan memberikan kesempatan mereka kebebasan mengeksplorasi penggunaan gunting. Oleh karena itu, pemilihan jenis gunting juga menjadi hal penting agar anak-anak tetap aman saat menggunakannya. Jenis gunting yang aman yaitu yang mata pisaunya bukan dari bahan logam melainkan plastik. Keseluruhan bahannya dari plastik.

Sebelumnya mas arvin pernah luka kecil akibat bermain gunting logam kecil. Tapi mas arvin tetap semangat belajar menggunting dan tetap penasaran tanpa menghiraukan lukanya. Akhirnya kami coba mencarikan gunting dari plastik yang dulu pernah dikenalkan oleh kakak kami. Ternyata di beberapa toko mainan di Sidoarjo yang kami datangi tidak menjual gunting plastik tersebut. Di toko alat-alat tulis "P**angi" juga tidak ada. Alhamdulillaah akhirnya dapat juga di toko alat-alat tulis di jalan Gajah Mada 74 sebelah kanan jalan. Harga gunting plastik di situ Rp4.500. Barangnya bagus, lumayan masih bisa digunakan untuk seukuran tangan mas arvin.

Manfaat belajar menggunting, antara lain melatih ketahanan otot-otot jari, khususnya jari telunjuk dan jempol. Kedua jari ini sangat berhubungan dengan kegiatan menulis.

Manfaat berikutnya adalah melatih koordinasi mata dan kedua tangan. Ketika anak sedang menggunting maka tangan kanan fokus pada gunting agar tetap tegak lurus dengan kertas saat menggunting sambil membuka-tutup mata pisau gunting. Di tangan kiri, tangan fokus mengarahkan kertas ke gunting. Sedangkan mata fokus melihat arah gerak gunting, lurus atau melengkung.

Manfaat berikutnya dari kegiatan menggunting adalah melatih kesabaran dan konsentrasi anak. Jangankan anak-anak, kita saja, orang dewasa saat menggunting, perhatikan bibir kita, ... kalau gak mecucu paling-paling sambil melet. :D

Sedangkan kegiatan yang paling seru bagi mas arvin (dan ayahnya) adalah bermain pistol air. Hampir setiap hari ayahnya yang malah diajak bermain pistol air. Kebetulan kami punya dua pistol air. Kalau pas main, mas arvin sampai basah kuyup karena sekalian persiapan mandi. Ayahnya, sementara ini, yang sering menang kalau perang pistol air dengan mas arvin ... wahahaha. :D

Saat bermain pistol air, jari-jari tangan anak dilatih untuk

Selasa, 11 Oktober 2016

Anak yang Sakit Hampir Tiap Bulan

Balita yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan atau 2 tahun rata-rata memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap penyakit. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sistem kekebalan tubuh bayi masih belum sempurna sehingga biasanya masih mudah terkena sakit. Dalam hal ini, imunisasi cukuplah penting untuk mengurangi efek dari penyakit yang diderita.

Agar balita senantiasa sehat, maka perlu ada pola hidup sehat yang diterapkan, baik dari lingkungan sekitar bayi maupun kebiasaan harian balita. Terutama lingkungan terdekat balita, yaitu keluarga. Diusahakan agar tidak ada satu pun anggota keluarga yang memiliki kebiasaan merokok, dan membiasakan diri dengan hidup bersih. Balita juga perlu diajak untuk beraktivitas di luar rumah, mendapatkan udara segar di pagi hari, sinar matahari pagi yang hangat, dan berolahraga sambil bermain bersama orang tua atau teman-temannya. Dan yang tak kalah penting adalah mendapatkan nutrisi yang terbaik saat mulai MPASI dan sesudah lulus ASI eksklusif.

Tapi bagaimana jika anak balita sudah mendapatkan perawatan yang baik dari orangtuanya serta lingkungan yang bersih, tapi anak balita sakit hampir tiap bulan?

Masih dikatakan wajar, jika balita sakit rata-rata 4-8 kali dalam setahunnya. Ini karena sekali lagi sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang menuju sempurna. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketika balita sakit 2-3 kali dalam sebulan, ini perlu mendapatkan perhatian serius dan segera dikonsultasikan ke dokter untuk diketahui penyebabnya. Sakit yang dialami anak meski terlihat umum seperti flu, diare, ataupun batuk, tapi jika ini sering terjadi maka harus dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi anak (sumber: bidanku.com).

Balita yang memiliki riwayat orangtua dengan alergi tertentu juga bisa mudah sakit. Mas arvin juga begitu, karena ayah dan bundanya punya riwayat alergi. Anak yang punya riwayat alergi dalam keluarga, otomatis akan sering batuk pilek, semisal karena pergantian cuaca, dan lain sebagainya (sumber: tabloidnova.com). Tapi asalkan itu hanyalah sakit yang ringan maka tidak perlu terlalu khawatir. Sakit ringan itu maksudnya

Senin, 10 Oktober 2016

Bermain Alat Musik Baik untuk Balita Anda

Berduet, serius banget :D
Kami punya dua alat musik di rumah, yaitu pianika dan suling, milik bundanya waktu masih kelas 5 SD, sampai sekarang kondisi masih baik. Tapi bukan hendak kami jual kok (siapa yang tanya? :D ). Ada sih yang lain, tapi jangan dihitung sebagai alat musik, antara lain drum mainan plastik, xylophone mainan plastik, peluit, panci, tutup panci, dan lain sebagainya ... hehe semuanya bisa untuk bermain musik bukan? :D

Tapi menggunakan alat musik “ala kadarnya” tersebut untuk media permainan balita anda tidak ada salahnya juga kok. Benda-benda tersebut juga bisa menghasilkan perbedaan suara. Hal tersebut bisa sebagai salah satu cara kita mengenalkan alat musik kepada balita. Biarkan setiap anak mengeksplorasi berbagai cara untuk menghasilkan suara saat menggunakannya.

Nah, baik bunda maupun ayah, kami sadar diri, bahwa kami tidak memiliki bakat dan minat bermain musik. Betapa tidak, bunda saja dileskan piano saat kelas 5 SD tapi sudah mutung (Bahasa Jawa: berhenti) saat masih 3 kali pertemuan, gak minat. Sedangkan ayah, sampai sekarang memainkan pianika, yang hafal cuma not angka lagu "Ibu Kita Kartini" itu pun hanya dua baris pertama dari lagu tersebut. Jadi kalau ingin mainkan pianika untuk lagu lain maka harus lihat buku not angka lagu. Itu pun dengan teknik 2 jari telunjuk ... wkwkwk.

Tapi kakek-kakeknya mas arvin, baik dari garis bunda maupun ayah, punya insting musik yang bagus dan mahir bermain alat musik. Bisa jadi gen dari beliau-beliau bersifat resesif atau "bersembunyi" dalam diri kami. Nah masalahnya, kami belum tahu gen tersebut dominan atau muncul pada mas arvin atau tetap resesif, atau bahkan tidak ada sama sekali.

Yang jelas adalah bermain alat musik baik untuk balita atau anak-anak. Manfaatnya antara lain dapat meningkatkan kemampuan motoriknya, melatih otak kanan dan kiri, melatih kepekaan suara, dan menyalurkan emosional secara positif.

Beberapa orangtua ingin mengajarkan cara memainkan alat musik sejak dini kepada anak-anak mereka. Hal ini sah-sah saja. Pada umumnya anak baru siap mempelajari cara mempelajari alat musik setidaknya minimal usia 3 tahun. Ini karena pada usia tersebut sirkuit otaknya yang melatih kepekaan bermusik mulai matang. Bahkan dalam sebuah penelitian di University of California menunjukkan anak umur 3 dan 4 tahun yang mengikuti pelajaran piano terbukti dapat tampil lebih baik dalam

Minggu, 09 Oktober 2016

Kini Anak Flu Tak Baik di beri Buah

Setelah bermain kejar-kejaran dan tembak-tembakan di rumah yangti, sempat bersin-bersin, setelah itu sesampai pulang di rumah, mas arvin sakit batuk, pilek, dan panas (bapilnas).

Biasanya kalau panasnya mas arvin sudah mencapai suhu 38 derajat celcius ke atas, disertai pilek, batuk, dan panas, malamnya kalau tidak segera diperiksakan dan diberi obat, maka bisa terkena pneumonia ringan. Oleh karena itu, langsung kami antarkan ke puskesmas Sukodono yang memiliki pelayanan UGD 24 jam setiap hari.

Saat di puskesmas, dengan mata mas arvin yang sudah berkaca-kaca karena panas, hidung meler, mas arvin berceloteh dan bercanda seperti anak yang fine fine saja.

Ayah: "gini ini tha sakit itu?" (sambil melihat mas arvin yang dari tadi berkicau)
Ayah: "mas arvin sakit apa sih?"
Arvin: "cu".
Ayah: "hah ... flu?" (tanya saya heran sambil memastikan)
Arvin: "iya ... cu"

Jawaban yang tidak disangka-sangka :). Kata bundanya, "sepertinya dia ingat dengan kartu flash card bikinan ayah itu yang bertuliskan flu dengan gambar orang sedang pilek dan terlihat sakit panas".
"Oo ... iya iya", respon saya sambil tertawa.

Tiba giliran mas arvin, petugas kesehatan puskesmas memanggil dan memeriksa. Setelah diperiksa, petugas tersebut berpesan agar untuk sementara tidak boleh minum susu coklat, permen, es, gorengan, dan segala macam buah-buahan. Saya sampai sudah hafal, tiap kali sakit bapilnas, pesan petugas selalu sama.

Tapi dulu, pertama kali periksa, saya sempat heran dan mempertanyakan, mengapa kini anak flu tak baik diberi buah? kata petugas kesehatan di puskesmas karena buah-buahan sekarang ini bisa memperparah bapilnas mas arvin yang biasanya disertai dengan radang tenggorokan. Padahal sewaktu saya kecil dulu, saya malah disuruh makan jeruk saat pilek, untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Jelas petugas puskesmas, ternyata ini ada hubungannya dengan

Jumat, 07 Oktober 2016

Apa Anak Usia 2 Tahun Sekolah PAUD

Sambil bergaya bawa tas sekolah baru :) .

Ayah: "mas arvin kalau sekolah jam berapa?"
Arvin: "...elan" (jam sembilan)
Ayah: "di mana sekolahnya?"
Arvin: "..cuko" (Suko)
Ayah: "siapa nama gurunya, mas?.."
Arvin: "..nda" (bunda)
Ayah: "siapa muridnya?"
Arvin: "aci" (arvin)

Begitulah jawabannya kalau ditanya tentang sekolahnya. :)

Ini bukan berarti mas Arvin mau berangkat sekolah beneran, "sekolah"nya pun di rumah sendiri kok. Tapi hanya ingin membiasakan atau mengenalkan ke mas Arvin apa itu sekolah. Bahwa sekolah itu ada jam masuk dan pulangnya, ada guru dan muridnya, ada yang dipelajari, ada tas dan alat tulis yang harus dibawa atau disiapkan, dan lain sebagainya. Semua ini kami lakukan di rumah, berpura-pura sedang di sekolah, bermain peran sebagai murid, yakni mas arvin, dan ada juga yang sebagai guru, yakni bunda. Sedangkan untuk mengasah kemampuan interaksi sosialnya, mas Arvin dibiasakan bermain dengan teman-teman di sekitar lingkungan rumah.

Nah, kalau materi PAUD (Pendidikan Anak Usia dini), insyaAllah ada yang berbagi filenya. Tinggal download lalu print. Jadi gak perlu bingung mau ngajar apa. Untuk linknya tinggal klik berikut ini: download kegiatan PAUD.

Tapi jika Anda merasa tidak memungkinkan untuk mengajar anak secara mandiri, apa boleh anak usia 2 tahun sudah mulai sekolah PAUD?

Sebaiknya anak masuk kelompok bermain ketika usianya 3 tahun dan termuda usia 2,6 tahun, dengan pertimbangan agar mereka bisa lebih banyak bercengkerama dengan anggota keluarga. (Sumber: tabloid-nakita.com)

Tetapi bagi anak-anak yang sehari-harinya hanya dengan pengasuh dan kurang mendapatkan stimulasi,

Selasa, 04 Oktober 2016

Tanggung Jawab Tanpa Terpaksa Sejak Kecil

Membentuk karakter tanggung jawab melalui imajinasi ternyata sangat efektif diterapkan pada anak sejak balita. Setidaknya itulah menurut pengalaman kami terhadap anak kami setelah beberapa kali kami amati dan evaluasi. Dengan mengajarkan tanggung jawab melalui imajinasi ternyata kami bisa menanamkan sikap bertanggung jawab tanpa terpaksa sejak kecil.

Sebenarnya dalam menerapkan tanggung jawab, kami menggunakan tiga cara, yaitu melalui komunikasi fakta sebab akibat, contoh atau teladan orang tua, dan menggunakan imajinasi anak. Tapi menurut ayah, mengajarkan tanggung jawab kepada anak melalui imajinasi inilah yang paling unik dan menarik.

Sejak mas Arvin lahir, kami berusaha melakukan pembiasaan tanggung jawab dimulai dengan hal-hal kecil, semisal rutinitas kesehariannya, semisal bangun saat subuh, mandi jam lima pagi, pijat bayi, caring (Bahasa Jawa: menjemur bayi sebentar sekitar pukul 06.30), dan lain sebagainya. Intinya sebelum ayah berangkat kerja pukul 06.25 mas Arvin sudah wangi dan bersih. Ketika beranjak memasuki usia balita, kegiatan rutinitas tersebut tetap berjalan, dan bertambah dengan tanggung jawab lainnya yang sebagian mulai dikenalkan pada si kecil, sesuai dengan apa yang mampu ia kerjakan, semisal membantu ayah menyapu halaman (atau lebih tepatnya bagi mas Arvin itu adalah membantu sambil bermain :) ). Juga kegiatan lainnya semisal merapikan sandal dan membersihkan kaki di keset setiap kali masuk rumah, merapikan mainan setelah bermain baik di rumah sendiri maupun di rumah orang lain, tidak boleh masuk kamar tidur saat masih makan dan minum, menggunakan alas kaki setiap keluar rumah, membuang sampah di tempat sampah, menutup pintu kamar tidur saat AC di dalamnya menyala, saat maghrib harus sudah pulang dari bermain di luar rumah atau di rumah tetangga, pukul 07.00 malam mulai berangkat tidur, dan lain sebagainya. Aturan-aturan tersebut kami terapkan secara bertahap, kontinu, penuh penghargaan di setiap level kemajuan, dan tanpa paksaan.

Sebelum ke topik utama, mungkin Anda akan bertanya, bukankah itu terkesan orang tua yang terlalu banyak aturan? Tidak masalah jika kami dinilai seperti itu, karena itu baik bagi anak kami, agar sejak kecil dia terbiasa untuk bertanggung jawab. Agar nanti saat besar tidak dicap sebagai orang yang berkepribadian TIDAK TAHU ATURAN. Gak enak lho kalau sudah jadi kepribadian itu, kalau sudah dewasa masih bisa dirubah sih tapi lebih sulit. Bagi kami seseorang yang berkarakter tanggung jawab itu nilainya mahal di mata masyarakat ... atau bisa dikatakan mulai langka.

Kembali ke topik utama, sebetulnya "mengajarkan tanggung jawab melalui imajinasi" hanyalah istilah dari kami. Kami tidak tahu apa istilah lebih tepatnya dari para pakar. Bagaimana contoh mengajarkan tanggungjawab terhadap diri dan lingkungan menggunakan imajinasi tersebut? berikut beberapa contohnya:

Senin, 03 Oktober 2016

Kenali Sebab Anak Merasa Takut


Anak balita yang memiliki kewaspadaan tinggi akan terlihat sebagai anak yang mudah takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Dan mereka juga tidak terlalu mudah atau cepat bergaul dengan anak atau orang dewasa yang belum dia kenal. Mereka cenderung menghindar atau menolak orang yang "level keamanannya" belum diukur atau dibuktikan sendiri untuk bisa dianggap sebagai teman. Hal ini juga terjadi pada mas Arvin akhir-akhir ini.

Mereka tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan baru tetapi membutuhkan waktu beberapa jam atau beberapa kali datang. Dalam mencoba permainan pun, tidak sembarang permainan akan dia pilih. Dia akan cenderung melihat-lihat terlebih dulu mainan apa yang aman buat dia, baru kemudian berhati-hati mencobanya. Dan cenderung bertahan lama pada satu wahana permainan ketimbang ingin segera mencoba yang lain. Bagi dia yang penting "yang ini sudah terbukti aman atau nyaman, yang lain belum tentu" baginya.

Menurut saya, anak-anak yang memiliki kewaspadaan tinggi sebenarnya bukan anak penakut, tapi mereka adalah anak yang mampu berpikir kritis dan mulai sadar terhadap kondisi diri dan lingkungan sekitarnya. Jika dia rasa belum "klik" antara kondisi dirinya dan dengan orang lain atau lingkungannya, maka rasa tidak nyaman tetap ada. Oleh karena itu orang tua wajib kenali sebab anak merasa takut.

Setelah browsing di sana-sini, ternyata pemikiran ayah tersebut senada dengan penjelasan dari Ari Brown, MD, salah satu penulis "Baby 411" (Windsor Peak Press). Brown menjelaskan bahwa rasa takut - dari suara keras, monster, orang asing, benda, atau dari suatu kegiatan tertentu - adalah bagian alami dari masa anak-anak. Hal ini merupakan bagian dari perkembangan normal, takut merupakan tanda bahwa dia sadar terhadap lingkungan dan mencoba untuk memahaminya (parents.com).

Sebenarnya "rasa takut" itu mulai tumbuh saat orangtua mengajarkan pada anak-anaknya untuk berhati-hati, takut, cemas, atau waspada dari bahaya tertentu, seperti kebakaran, benda tajam, tempat yang tinggi, atau saat menyeberang jalan. Hal ini baik sebab tujuannya untuk melindungi anak-anak dari bahaya. Namun,

Minggu, 02 Oktober 2016

Anak Perlu Bermain dengan Ayah Ibu

Setelah dini hari kami mempersiapkan tampilan powerpoint dari materi yang berjudul "Mengapa anak butuh bermain dengan ortu?", alhamdulillaah di siang harinya, bunda punya kesempatan berbagi pengalaman dan pengetahuan di daerah Lingkar Timur Sidoarjo, acara arisan tapi mengangkat tema parenting.

Materi ini lumayan menggelitik rasa ingin tahu para peserta karena sub judulnya adalah menyiapkan generasi abad 21 yang berkompetensi unggul. Ada yang mempertanyakan, apa hubungannya antara anak perlu bermain dengan ayah ibu dengan kompetensi generasi unggul abad 21?.

Sebenarnya saya sudah pernah posting artikel ini di kidsgen.blogspot.com namun saya ingin tambahkan di kidsinpira.blogspot.com dengan hasil dari tanya jawab peserta.

Sekilas tentang materinya seperti ini. Pada abad 21, generasi yang dibutuhkan yaitu generasi yang memiliki kompetensi kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Kompetensi tersebut bisa terbentuk pada diri anak jika didukung juga dengan adanya figur ayah dan bunda yang baik. Figur ayah meliputi kebaikan dalam hal logika, keberanian menghadapi tantangan, dan mampu mengambil keputusan dengan baik. Sedangkan figur ibu meliputi sikap bertanggungjawab, imajinatif, penuh kasih sayang, dan kelembutan. Transfer pengalaman ayah dan ibu tersebut melalui interaksi dan komunikasi terhadap anak akan membentuk kepribadian anak yang sehat. Kompetensi anak juga bisa berkembang sejak balita jika orangtuanya menyempatkan waktu bermain dengan anaknya agar terjadi transfer pengalaman. Beberapa permainan yang baik contohnya lego, puzzle, menggambar, bermain peran, dan block center. Lego dan puzzle melatih sikap kritis dan kreativitas anak. Menggambar melatih komunikasi. Dan bermain peran melatih kemampuan kolaborasi dan komunikasi anak.

Pertanyaan yang muncul antara lain:
Pertanyaan yang pertama dari peserta yang pasangannya sama-sama bekerja dan anaknya diasuh oleh pembantu yang juga memiliki anak namun berperangai kasar dan membawa pengaruh buruk terhadapnya anaknya. Apa yang harus dilakukan?

Dari forum tersebut dihasilkan sebuah jawaban bahwa karena pembantu tersebut sudah dianggap atau termasuk menjadi bagian dari anggota keluarga, maka sudah menjadi tanggungjawab ayah dan bunda yang merupakan tuan rumah untuk menertibkannya. Pembantu dan anaknya harus dipahamkan bahwa figur ayah dan ibu ada pada tuan rumah. Dan mereka harus dilibatkan dalam membuat aturan dalam rumah tersebut.

Pertanyaan kedua dari peserta yang merupakan ibu dengan dua orang anak yang ayahnya hanya sibuk bekerja melayani sosial sedangkan anaknya dikondisikan pada sekretariat tempat ayahnya bekerja. Ayahnya berharap dengan begitu anak-anaknya memiliki pengkondisian yang baik dan memiliki kepribadian yang baik, meski tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Hal ini karena ibunya juga seorang wanita karir dan ayahnya juga seorang manajer sosial. Tapi pada kenyataannya akhirnya anak terlantar di sekretariat tersebut, seperti belum makan saat sore, belum ganti baju saat orang tuanya datang, dan lain-lainnya. Bagaimana ini?

Dokumentasi Peristiwa Anak

Seberapa banyak orang yang mampu mengingat beberapa peristiwa penting yang terjadi di masa kecilnya? terutama ingatan tentang kejadian atau pengalaman yang kita alami di usia 0-5 tahun? Saya yakin sedikit orang (atau tidak ada) yang mengingatnya. Misalkan pengalaman belajar kita dalam berjalan, berkomunikasi, berinteraksi dengan sosial, dan lain sebagainya, sangat susah kita mengingatnya, kecuali jika ada kegiatan dokumentasi oleh orang tua kita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi saat kita masih anak-anak.

Pada dasarnya ingatan-ingatan tentang pengalaman, peristiwa, atau kegiatan belajar di masa kecil kita tetaplah ada dan tersimpan dalam long term memory (ingatan jangka panjang) kita. Apa buktinya? Buktinya adalah apakah kita perlu mengingat dulu bagaimana cara kita berjalan saat usia balita di setiap saat kita berjalan di usia kita sekarang ini? tentu tidak perlu bukan. Ada banyak hal lainnya yang kita pelajari sejak masih anak-anak yang disimpan dalam memori
jangka panjang dan masih ada sampai saat ini, seperti mengendarai sepeda, menulis alfabet, dan lain-lain.

Pengalaman dan perkembangan belajar kita umur 0-5 tahun sangat perlu diketahui karena rentang usia itu sangat menentukan corak kepribadian kita. Meskipun kita juga tahu kepribadian kita akan terus berkembang sepanjang hayat, namun tak bisa dipungkiri apa yang terjadi saat usia 0-5 tahun itu sangat menentukan.

Manfaatnya cukup besar jika kita mengetahui riwayat tumbuh kembang kita terutama di usia 0-5 tahun tersebut. Kita bisa mempelajari potensi apa atau bakat dan minat apa yang paling cepat berkembang dan menonjol di usia itu, yang kemudian kita bandingkan dengan hasil  pengamatan kita di usia dewasa. Jika ada bakat dan minat yang senantiasa subur hingga di usia dewasa, maka itu bisa menjadi bahan pertimbangan kita untuk menentukan karir apa yang paling menjanjikan untuk kita.

Bagaimana jika pengetahuan ini kita terapkan pada anak-anak kita? tentu luar biasa khan hasilnya. Untuk itulah kita perlu mendokumentasikan setiap perkembangan dinamis yang terjadi pada anak kita mulai dini, bahkan sejak anak kita lahir.

Apa saja yang perlu didokumentasikan? Merujuk kepada hal-hal yang diamati pada tes DENVER secara garis besar ada empat hal yang harus diamati, yaitu kemampuan motorik kasar, kemampuan bahasa, kemampuan adaptif - motorik halus, dan personal sosial.

  1. Kemampuan motorik kasar berkenaan dengan kemampuan duduk, berdiri, berlari, berjalan mundur, melempar dan menendang bola, berdiri pada satu kaki, menaiki tangga, dan lain sebagainya. 
  2. Kemampuan bahasa berkenaan dengan bersuara, tertawa, berteriak, menoleh ke sumber suara, mengoceh, jumlah kata, menunjuk gambar, mengombinasikan kata-kata, mengerti kata sifat, menyebut warna, menyebut kegunaan benda, menghitung 1-2-3, dan lain sebagainya.
  3. Kemampuan adaptif - motorik halus berkenaan dengan memegang mainan kericikan, tangan bersentuhan, meraup manik-manik, mengambil dua kubus, mencoret-coret, membuat menara kubus, meniru membuat garis tegak, menggoyangkan ibu jari saja, memilih garis yang lebih panjang, menggambar orang, dan lain sebagainya.
  4. Personal sosial berkenaan dengan

Senin, 26 September 2016

Memukul sebagai Komunikasi Anak

Pagi hari kemarin, bunda cerita bahwa mas arvin tiba-tiba nangis tidak mau main dengan salah satu anak tetangga yang usianya dua tahun lebih tua dari mas arvin, namanya Dian (bukan nama sebenarnya). Bahkan langsung maju, memukul, dan mendorongnya, padahal anak laki-laki tersebut hanya berdiri di depan rumahnya hanya melihat mas arvin bermain. Padahal di hari sebelumnya mas Dian dan Arvin asik main baling-baling bersama. Ada apa?

Bunda langsung memegang arvin dan mengajak berbicara.

Bunda: "Stop. Kenapa?"
Arvin: ... (diam sebentar, kemudian nangis)
Bunda: "kenapa kok memukul, kenapa kok dorong mas Dian? mas Dian khan gak ngapa-ngapain.
Arvin: ... (tetap nangis)
Bunda: "ayo minta maaf ke mas Dian."
Arvin: ... (langsung mendekati mas Dian dan langsung meminta maaf dengan cara salaman sambil tetap nangis)

Bunda kemudian mengalihkan perhatian mas Arvin untuk bermain bola. Bunda mendatangi mas Dian dan berkata, "maaf ya mas, nanti saja ya mainnya". Mas Dian memahami dan menunggu beberapa saat. Mamanya juga berkata, "tunggu ya mas Dian, adek Arvin belum mood main sama mas Dian". Arvin kemudian bermain bola dengan teman yang lainnya.

Beberapa menit kemudian mas Arvin bermain bola dengan mas Dian secara kebetulan dan tiba-tiba.

Kami juga punya teman-teman grup di telegram apps yg memiliki anak-anak seumuran mas arvin, dan ternyata ... memiliki masalah yang serupa. Hal ini karena memang kejadian seperti di atas wajar terjadi pada anak-anak seusia mereka (balita) yang masih memiliki keterbatasan kosakata, kontrol diri, dan adab bagaimana bertingkah laku yang benar. Kecenderungan mereka untuk menunjukkan ketidaknyamanan yang tidak bisa mereka ucapkan itu yaitu dengan menangis atau kontak fisik semisal mendorong dan memukul.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Janet Lansbury, bahwa di di dunia ini tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah anak yang bertarung dengan emosi dan dorongan dalam diri mereka kemudian berusaha mengkomunikasikan perasaan dan kebutuhan mereka dengan cara yang mereka tahu (sumber: pijarpsikologi.org). Senada dengan penjelasan dari psikolog Rahmitha P. Soendjojo, bahwa perilaku memukul biasanya muncul pada anak yang belum bisa berbicara atau baru mulai belajar bicara. Hal ini karena perbendaharaan katanya masih sangat terbatas, sehingga memukul menjadi salah satu bahasa untuk menyatakan keinginannya maupun ketika ia merasa kurang nyaman atau tak aman (sumber: tabloidnova.com).

Lantas, apa yang harus dilakukan?

Minggu, 25 September 2016

Bahasa Planet Asing

:D ~ Aca aet ius ~ :D

Mas arvin lagi main sambil ngoceh tidak jelas. Mbahnya tidak paham apa yang dibicarakan, termasuk kami ... juga tidak paham :).

Mbah: "ngomong apa ya?" (sambil tersenyum melirik kami)
Bunda: "mas arvin kalau lagi ngomong gak jelas begini pakai bahasa apa ya?"
Arvin: "Aca aet" (bahasa planet)
Ayah: "Memangnya bahasa planet apa?"
Arvin: "Aet ius" (Planet Merkurius)
Ayah: "Ooo..."
Bunda: "Planet Jupiter be'e"
Arvin: "Aet ius"
Bunda: "Bumi" (goda bunda)
Arvin: "ius"

Wkwkwk ...
Memang di rumah, kami ada perpustakaan kecil, di situ ada salah satu buku ensiklopedia anak yang membahas tentang planet-planet. Entah mengapa yang terekam di ingatannya adalah Planet Merkurius. Yang pasti alhamdulillaaah ... kami sekeluarga belum pernah ke Planet Merkurius :D.

Mas Arvin (2 tahun 2 bulan) memang belum bisa baca buku tersebut, kami hanya membacakannya saat dia berumur masih 21 bulan. Beberapa kali dia ingin dibacakan buku tersebut, bergantian dengan buku yang lain. Ternyata recall-nya saat dia berusia sekarang ini.

Benda-benda angkasa seperti bulan dan bintang, dia kenal dari buku dan melihat langsung. Pernah kami ketika membahas tentang bulan, mas arvin langsung mengambilkan buku dan membuka lembar per lembarnya untuk menunjukkan gambar bulan yang ada di buku tersebut.

Tidak ada targetan dari kami untuk mengajarinya membaca, karena usianya masih kecil. Karena tidak boleh ada pemaksaan saat belajar membaca, karena hal itu tidak baik untuk kondisi anak yang masih di bawah usia 7 tahun. Dunia mereka masihlah dunia bermain, bukan seperti sekolah membaca. Jadi metode kami mengajarkannya pun dengan bermain. Targetan kami hanyalah menanamkan rasa cinta membaca terlebih dulu. Dengan cara membacakan buku saat dia akan tidur, atau membaca bersamanya saat dia ingin membaca

Membentuk Sifat Peduli Anak

Peduli, bukanlah hal yang bisa tiba-tiba muncul dalam pribadi seorang anak. Peduli adalah suatu tindakan yang didasari pada keprihatinan terhadap masalah orang lain (sumber: wikipedia). Mayoritas orang tua pasti senang melihat anaknya memiliki sifat peduli pada lingkungan atau masyarakat, pada orang tua, dan pada dirinya sendiri. Membentuk sifat peduli pada anak harus dilakukan sejak dini. Kapan saat yang tepat dalam menanamkan sifat peduli pada anak? jawabannya adalah semenjak dia lahir atau bahkan semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya.

Seorang ibu yang sedang hamil memiliki ikatan psikologis yang tinggi dengan anak yang dikandungnya. Carista Luminare-Rosen, PhD, membuktikan pada penelitiannya bahwa bayi dalam kandungan sudah memiliki kemampuan emosional dan intuisi untuk merasakan cinta dari kedua orang tuanya (sumber: ayahbunda.co.id). Jika seorang bumil (ibu hamil) tidak merasa mendapatkan dukungan dan rasa aman dari suaminya selama kehamilan, maka perasaan bumil yang merasa diabaikan tersebut akan dapat pula dirasakan oleh janin.

Pada saat anak baru lahir atau masih bayi juga merupakan masa di mana anak belajar kepedulian dari ayah dan bundanya. Saat ayah mau membantu bunda menggantikan popok atau memandikan karena bundanya sedang repot memasak adalah salah satu momen di mana bayi memperhatikan dan merasakan kepedulian. Bagaimana kita berucap saat merawat bayi apakah dengan mengomel atau dengan ketulusan juga menentukan keberhasilan kita dalam menanamkan kepedulian pada anak.

Ketika anak masuk usia balita, setiap kali dia selesai main ayah dan bunda selalu kompak dalam menerapkan aturan untuk merapikan mainan sebelum tidur atau melakukan kegiatan lain. Ini juga merupakan bentuk pendidikan kepedulian.

Sejak balita, anak memperhatikan peran-peran ayah dan ibunya di rumah. Peran-peran tersebut membantu dia untuk mengenali bagaimana bersikap peduli. Saat ibu yang sedang memasakkan makanan untuk keluarga, ayah menyapu dan mengepel, bunda memandikan anak, ayah bantu menyuapi bayi, ayah bersedia bangun tengah malam saat sang bayi bangun dan menangis, secapek apapun pulang kerja tetap menyempatkan waktu bermain dengan anak, mengajak anak memberi makan hewan peliharaan setiap hari, menyirami tanaman agar tumbuh baik adalah beberapa aktivitas yang akan direkam anak dan menjadi teladan bagi mereka bagaimana bersikap peduli.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Abraham Maslow bahwa terdapat lima tingkat kebutuhan dasar, yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.

Teori tersebut menunjukkan bahwa anak yang memiliki sifat peduli pada dasarnya adalah anak-anak yang telah mendapatkan kebutuhan yang paling dasar dulu yaitu makan dan minum, rasa aman yang didapat dari lingkungan terdekatnya (yaitu keluarga), merasa dicintai bukan diabaikan oleh orang tuanya, mendapatkan penghargaan di setiap keberhasilan tumbuh kembang kemampuan mereka, dan pada akhirnya mereka akan belajar beraktualisasi dan berani mengambil peran atau tanggung jawab, semisal membantu merapikan mainan, menyapu halaman, dan lain sebagainya.

Sebuah studi di Harvard University, Amerika Serikat, menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara