Selasa, 04 Oktober 2016

Tanggung Jawab Tanpa Terpaksa Sejak Kecil

Membentuk karakter tanggung jawab melalui imajinasi ternyata sangat efektif diterapkan pada anak sejak balita. Setidaknya itulah menurut pengalaman kami terhadap anak kami setelah beberapa kali kami amati dan evaluasi. Dengan mengajarkan tanggung jawab melalui imajinasi ternyata kami bisa menanamkan sikap bertanggung jawab tanpa terpaksa sejak kecil.

Sebenarnya dalam menerapkan tanggung jawab, kami menggunakan tiga cara, yaitu melalui komunikasi fakta sebab akibat, contoh atau teladan orang tua, dan menggunakan imajinasi anak. Tapi menurut ayah, mengajarkan tanggung jawab kepada anak melalui imajinasi inilah yang paling unik dan menarik.

Sejak mas Arvin lahir, kami berusaha melakukan pembiasaan tanggung jawab dimulai dengan hal-hal kecil, semisal rutinitas kesehariannya, semisal bangun saat subuh, mandi jam lima pagi, pijat bayi, caring (Bahasa Jawa: menjemur bayi sebentar sekitar pukul 06.30), dan lain sebagainya. Intinya sebelum ayah berangkat kerja pukul 06.25 mas Arvin sudah wangi dan bersih. Ketika beranjak memasuki usia balita, kegiatan rutinitas tersebut tetap berjalan, dan bertambah dengan tanggung jawab lainnya yang sebagian mulai dikenalkan pada si kecil, sesuai dengan apa yang mampu ia kerjakan, semisal membantu ayah menyapu halaman (atau lebih tepatnya bagi mas Arvin itu adalah membantu sambil bermain :) ). Juga kegiatan lainnya semisal merapikan sandal dan membersihkan kaki di keset setiap kali masuk rumah, merapikan mainan setelah bermain baik di rumah sendiri maupun di rumah orang lain, tidak boleh masuk kamar tidur saat masih makan dan minum, menggunakan alas kaki setiap keluar rumah, membuang sampah di tempat sampah, menutup pintu kamar tidur saat AC di dalamnya menyala, saat maghrib harus sudah pulang dari bermain di luar rumah atau di rumah tetangga, pukul 07.00 malam mulai berangkat tidur, dan lain sebagainya. Aturan-aturan tersebut kami terapkan secara bertahap, kontinu, penuh penghargaan di setiap level kemajuan, dan tanpa paksaan.

Sebelum ke topik utama, mungkin Anda akan bertanya, bukankah itu terkesan orang tua yang terlalu banyak aturan? Tidak masalah jika kami dinilai seperti itu, karena itu baik bagi anak kami, agar sejak kecil dia terbiasa untuk bertanggung jawab. Agar nanti saat besar tidak dicap sebagai orang yang berkepribadian TIDAK TAHU ATURAN. Gak enak lho kalau sudah jadi kepribadian itu, kalau sudah dewasa masih bisa dirubah sih tapi lebih sulit. Bagi kami seseorang yang berkarakter tanggung jawab itu nilainya mahal di mata masyarakat ... atau bisa dikatakan mulai langka.

Kembali ke topik utama, sebetulnya "mengajarkan tanggung jawab melalui imajinasi" hanyalah istilah dari kami. Kami tidak tahu apa istilah lebih tepatnya dari para pakar. Bagaimana contoh mengajarkan tanggungjawab terhadap diri dan lingkungan menggunakan imajinasi tersebut? berikut beberapa contohnya:
  1. saat mas arvin tidak mau merapikan mainannya, kami mengatakan, "hua hua hua ... Lho mas mainannya nangis itu lho ditinggal sendirian di situ. Kasihan lho dia khan pingin istirahat di keranjangnya juga" ... (maksudnya keranjang tempat mainan)
  2. saat mas arvin tidak mau merapikan sandal setelah pakai, kami mengatakan, "mas, sandalnya sedih tuh habis pakai kok tidak dirapikan lagi".
  3. saat mas arvin tidak mau mandi pagi, kami mengatakan, "mas ayuk ajak gajah ikutan mandi, gajah ingin mandi sama mas arvin, kungkum bareng sama mas arvin, mau?". Kungkum artinya berendam (bahasa jawa).
  4. waktunya makan, mas Arvin tidak mau makan, kami mengatakan sambil mendekatkan mainan gajah atau harimaunya, "Gajah, harimau lapar ya? biar sehat, mau makan ya? oo mau ya, coba buka mulutnya A..a..a. Sekarang mas arvin ya ... gajah, harimau, mau nemani mas arvin makan ya".
  5. dan lain sebagainya.
Sebenarnya cara ini tidak berdiri sendiri saat kami terapkan ke mas Arvin, tetapi juga diselingi atau disertai dengan memasukkan penjelasan sebab akibat, dan juga disertai contoh dari ayah dan bunda.

Dan alhamdulillaah ... menerapkan pentingnya tanggungjawab terhadap diri dan lingkungan pada balita dengan cara imajinasi ini ternyata diminati oleh mas Arvin. Menurut kami, hal ini wajar, karena balita atau anak-anak memiliki dunia yang penuh imajinasi dan selalu ingin bermain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar