Pagi hari kemarin, bunda cerita bahwa mas arvin tiba-tiba nangis tidak mau main dengan salah satu anak tetangga yang usianya dua tahun lebih tua dari mas arvin, namanya Dian (bukan nama sebenarnya). Bahkan langsung maju, memukul, dan mendorongnya, padahal anak laki-laki tersebut hanya berdiri di depan rumahnya hanya melihat mas arvin bermain. Padahal di hari sebelumnya mas Dian dan Arvin asik main baling-baling bersama. Ada apa?
Bunda langsung memegang arvin dan mengajak berbicara.
Bunda: "Stop. Kenapa?"
Arvin: ... (diam sebentar, kemudian nangis)
Bunda: "kenapa kok memukul, kenapa kok dorong mas Dian? mas Dian khan gak ngapa-ngapain.
Arvin: ... (tetap nangis)
Bunda: "ayo minta maaf ke mas Dian."
Arvin: ... (langsung mendekati mas Dian dan langsung meminta maaf dengan cara salaman sambil tetap nangis)
Bunda kemudian mengalihkan perhatian mas Arvin untuk bermain bola. Bunda mendatangi mas Dian dan berkata, "maaf ya mas, nanti saja ya mainnya". Mas Dian memahami dan menunggu beberapa saat. Mamanya juga berkata, "tunggu ya mas Dian, adek Arvin belum mood main sama mas Dian". Arvin kemudian bermain bola dengan teman yang lainnya.
Beberapa menit kemudian mas Arvin bermain bola dengan mas Dian secara kebetulan dan tiba-tiba.
Kami juga punya teman-teman grup di telegram apps yg memiliki anak-anak seumuran mas arvin, dan ternyata ... memiliki masalah yang serupa. Hal ini karena memang kejadian seperti di atas wajar terjadi pada anak-anak seusia mereka (balita) yang masih memiliki keterbatasan kosakata, kontrol diri, dan adab bagaimana bertingkah laku yang benar. Kecenderungan mereka untuk menunjukkan ketidaknyamanan yang tidak bisa mereka ucapkan itu yaitu dengan menangis atau kontak fisik semisal mendorong dan memukul.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Janet Lansbury, bahwa di di dunia ini tidak ada anak yang nakal, yang ada hanyalah anak yang bertarung dengan emosi dan dorongan dalam diri mereka kemudian berusaha mengkomunikasikan perasaan dan kebutuhan mereka dengan cara yang mereka tahu (sumber: pijarpsikologi.org). Senada dengan penjelasan dari psikolog Rahmitha P. Soendjojo, bahwa perilaku memukul biasanya muncul pada anak yang belum bisa berbicara atau baru mulai belajar bicara. Hal ini karena perbendaharaan katanya masih sangat terbatas, sehingga memukul menjadi salah satu bahasa untuk menyatakan keinginannya maupun ketika ia merasa kurang nyaman atau tak aman (sumber: tabloidnova.com).
Lantas, apa yang harus dilakukan?
Pertama adalah orangtua wajib tenang dan tidak terpancing emosi apalagi melerai dengan cara memukul juga (fisik), karena anak cenderung "children see, children do", mereka malah akan meniru tindakan emosional kita.
Kedua, pegang tangannya dan ajak untuk tenang terlebih dulu, tunggu beberapa saat hingga dia tenang, sambil mempelajari apa saja kemungkinan penyebabnya. Pada kondisi anak sedang menangis atau marah, komunikasi dua arah sulit dilakukan. Pada saat seperti ini kesabaran kita dituntut untuk menunggu dia hingga tenang, kalau perlu peluk dia, dan katakan bahwa Anda mau menunggu hingga dia tenang.
Ketiga, ajak komunikasi anak, mengapa dia memukul, ajak dia memikirkan bagaimana perasaan anak yang dipukul, bagaimana perasaan anak yang dipukul, dan tanyakan apa yang seharusnya dilakukan. Terkesan apakah mungkin seorang anak balita bisa menjawab dengan mudah pertanyaan tersebut dengan kosakata yang masih terbatas. Tujuannya memang lebih kepada pembiasaan terhadap anak untuk berpikir dan berpendapat yang solutif. Tentunya hal ini membutuhkan bantuan orang tua untuk mengajarkan berulang kali.
Keempat, tunjukkan contoh bagaimana bersikap jika merasa tidak nyaman, merasa terganggu, atau tidak sepakat dengan orang lain. Ajak minta maaf jika terlanjur memukul. Pegang tangannya dan tunjukkan dengan cara semisal mengarahkan tangan anak ke pundak temannya sambil berkata, "maaf ya, tapi aku ingin main sendiri dulu", dan lain sebagainya.
Kelima, pada kesempatan lain, semisal jika sehari itu dia bermain dengan baik (akur) pada teman-temannya, maka berikanlah ia pujian dan perteguh bahwa itu adalah perbuatan yang baik. Jangan sampai kita memberikan kesan kepada anak bahwa hanya saat dia memukul temannya, baru dia diperhatikan, sedangkan saat dia berbuat baik malah dianggap wajar atau biasa-biasa saja. Dengan memberi pujian pada perbuatannya yang baik, insyaAllaah ... dia dapat mengenal perbuatan baik dan memperteguhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar